Simposium Nasional: Kritik Intelektualitas dalam Kesusastraan
Margareta Vania Renata
19020154026
Language and Media 2019A
"Penulis yang sesungguhnya tidak pernah punya persiapan apa-apa. Namun, pada saat yang sama, penulis juga tidak bisa menulis tanpa persiapan." (Budi Darma)
Simposium nasional yang ditujukan untuk mengapresiasi pemikiran Prof Budi Darma kali ini menghadirkan 16 narasumber terpercaya yang merupakan ahli sastra, dan salah satunya ialah Okky Puspa Madasari, salah seorang penulis yang menoreh prestasi bidang sastra termuda di Indonesia. Dalam pembicaraan beliau di simposium kali ini, beliau membahas mengenai sastra sebagai medan intelektualitas, dan beliau memiliki sejumlah argumen, baik setuju maupun tidak setuju dengan ide dan pemikiran Prof Budi Darma.
Okky menyampaikan bahwa menurut Prof Budi Darma, sastra merupakan intellectual exercise. Kemudian, Okky membandingkan pengertian intelektual menurut 3 ahli, yakni Budi Darma, Pramoedya Ananta Toer, dan Syed Hussein Alatas. Ketiga ahli tersebut sama sama menerbitkan sebuah buku yang membahas mengenai intelektual. Prof. Budi Darma mengatakan bahwa intelektual tidak harus identik dengan pendidikan formal yang tinggi. Sedikit berbeda dengan pernyataan Prof. Budi Darma, menurut Syed Hussein Alatas, seseorang yang ahli menulis tidak menjadikan orang tersebut seorang intelektual. Menurut Pramoedya Ananta Toer, seseorang tidak bisa dikatakan intelektual jika hanya berhenti pada pemahaman mengenai pengetahuan saja, namun sampai pada pemahaman mengenai tanggung jawab kepada diri sendiri dan lingkungannya. Menurut Prof. Budi Darma, sebuah karya bagus dapat diciptakan oleh seseorang yang intelektual, sedangkan orang yang tidak intelektual tidak akan bisa menulis karya yang bagus. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari untuk menjadi seorang yang intelekual. Pertama, orang yang mengandalkan bakat tidak akan bisa menulis dengan bagus, namun orang tersebut akan dapat menulis karya yang bagus jika bakat tersebut diikuti oleh kemauan untuk belajar dan menambah pengetahuan. Disitulah terbentuknya intelektualitas. Kedua, yaitu rendahnya kemampuan abstraksi. Ketika seorang penulis tidak memiliki kemampuan abstraksi maka yang ditulis hanyalah yang jasmaniah. Yang ketiga adalah tidak adanya jarak antara penulis dengan karya, semua karya yang ditulis akan tidak lebih dari sekedar otobiografi pengarang.
Tidak hanya membahas mengenai apa itu intelektual berdasarkan ketiga ahli tersebut, Okky juga menyampaikan beberapa kritik terhadap pemikiran Prof Budi Darma. Yang pertama ialah Budi Darma cenderung menempatkan makna intelektualisme sebatas kemampuan abstraksi dan berpikir. Kedua, intelektual bagi Budi Darma adalah mereka yang mampu berpikir dalam tataran abstraksi. Ketiga, Budi Darma tidak melihat keterlibatan dalam masalah masyarakat sebagai bagian dari kerja intelektual. Keempat, Budi Darma memberi batasan jelas antara bedanya seorang penulis dan tukang becak atau pembatik. Budi Darma masih terjebak dengan ilusi bahwa penulis derajatnya lebih tinggi daripada tukang becak atau pembatik. Kesadaran bahwa penulis juga merupakan pekerja tukang tak terlihat dalam gagasan Budi Darma. Selanjutnya, Prof Budi Darma menekankan bahwa karya sastra hanya bisa dilihat secara sastra, padahal karya sastra juga bisa dilihat dengan ilmu apapun, terutama sosial. Lalu, Prof. Budi Darma juga menganggap bahwa sastra sebagai medan intelektualitas semata mata hanya agar pengarang menghasilkan karya yang bagus. Okky menjelaskan bahwa seharusnya agar pengarang juga memahami dinamika dan persoalan disekitarnya. Okky menyampaikan jika Prof. Budi Darma juga memiliki statement yang jika dielaborasikan dapat mencapai titik temu, namun beliau tidak memiliki essay yang membahas terlebih lanjut.
"Para penulis yang sebetulnya berbakat dan gigih, terpaksa tidak mempunyai suasana yang baik untuk menulis"
- Budi Darma
Komentar
Posting Komentar